Tuhan, aku meminta Mu agar aku bisa berhasil
tapi kau beri aku tanpa hasil.
Tuhan, aku meminta Mu agar aku bisa sehat
tapi aku malah merasa sesak.
Tuhan, aku meminta Mu agar aku diberi kekayaan
tapi Kau jadikan aku tak berdaya.
Tuhan, aku meminta Mu agar setiap hari aku mendapat kesenangan
tapi Kau memberi ku ketegangan.
Tuhan, kenapa Engkau begitu?
Setiap yang aku minta selalu tak sama dengan yang Kau berikan.
Setiap yang ku inginkan tak pernah Kau kabulkan.
Setiap yang ku harapkan tak jua menjadi keyataan.
Setiap yang ku buat tak kunjung menghasilkan.
Tuhan, kenapa Engkau diam?
Haruskan aku pun berpangku tangan dan diam.
Haruskan aku tidak berbuat apa-apa hingga kelam.
Haruskan aku meninggalkan setiap mimpi yang dalam.
Haruskan aku membiarkan harapan-harapan ku tenggelam.
Tuhan, aku memang kecewa dengan semua ini.
Namun, hanya Engkaulah yang empunya hidup ini.
Aku tak berhak secara penuh terhadap diri ini.
Nafasku, Engkau yang berikan dalam kehidupan ini.
Nadi ku berdeyut karena Kau yang memberi ijin.
Hidup ku adalah milik mu Tuhan
Suatu saat akan Engkau ambil secara perlahan.
Membiarkan aku terpejam dan melayang.
Tuhan, jika tugas ku kelak di bumi ini telah selesai
ijinkan aku untuk berdamai
berdamai dengan setiap perkara yang tak selesai.
menerima segala yang tak sempat tercapai
dan merelakan semuanya memuai
seakan segalanya telah usai.
note: kubuat saat semua mimpi ku terasa berhenti
Senin, 16 Januari 2012
Senin, 05 Desember 2011
Makna Sebuah Titipan
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Karya: W S Rendra
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Karya: W S Rendra
Doa Pada Tuhan
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.
Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkauinginkan." Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, "Karena Aku adalahTuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Akulakukan adalah benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari Mu?" Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikankepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini dari pada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".
Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkauinginkan." Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, "Karena Aku adalahTuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Akulakukan adalah benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari Mu?" Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikankepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini dari pada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".
sumber :Nn
Jika
Jika kamu memancing ikan..... Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil Ikan itu..... Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja.... Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup. Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... . Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya..... Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja...... Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... .. Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu. ...... Apabila sekali ia retak tentu sukar untuk kamu menambalnya semula...... Akhirnya ia dibuang..... .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya.... . Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.... .Anggaplah ia manusia biasa. Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untukmenerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya.... .
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan. Berkhasiat. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan menyesal. Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang Lain kamu juga akan menyesal.
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya.... . Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.... .Anggaplah ia manusia biasa. Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untukmenerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya.... .
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan. Berkhasiat. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan menyesal. Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang Lain kamu juga akan menyesal.
Sumber : Nn
Jumat, 14 Mei 2010
Cerita di Lampu Merah
Melintas jalan Gatot subroto siang ini (10/5), membuat aku merasa terenyuh. Sebuah pemandangan yang seakan menjadi satu pandangan mata biasa di tengah Bandung yang semakin padat.Kala itu, aku baru saja mengajar komputer di SD Slamet Riyadi. Kebetulan lampu berwarna merah dan "memaksa" untuk berhenti. Mobil dan motor mulai berjalan pelan dan berhenti. Pedangan asongan mulai menjajakan barang dagangannya yang ia bawa.Dari arah mata memandang, ada seorang anak dengan suara sumbangnya mendendangkan salah satu lagu pop di tanah air. Bermodalkan sebuah alat musik yang dibuat dari kayu dengan beberapa tutup botol minuman yang terpaku, ia mencoba mengais rejeki.Tepat di depannya ada pengendara motor yang juga sedang menanti lampu lalu lintas. Tampaknya suara parau dan paras lelah yang tercermin dari wajahnya tidak mampu menyentuh hati.Dengan lunglay ia melangkahkan kakinya tanpa ada hasil sama sekali. Kelelahan, Kekecewaan dan pengharapan menjadi satu dalam langkah kecilnya.Masih ingat bagaimana cerianya anak-anak saat paskahan di Aloy? Mereka berlari, bermain dan tertawa. Sepertinya, gelak tawa lepas dan keceriaan seperti anak-anak itu jauh dari bayangan pengamen-pengamen kecil.Ketika lampu menjadi hijau. Kendaraan pun melaju, semua itu seakan terbang bersama debu jalanan.
Jumat, 05 Maret 2010
U Are What U Choose
Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih. Sejauh ia telah memiliki tanggung jawab atas pilihannya itu, ia berhak untuk menggunakan pilihannya. Mengapa dikatakan pilihan yang bertanggung jawab? Memilih adalah suatu proses bukan yang semata-mata hanya melihat pada hasil akhir.
Seorang anak kecil berumur 4 tahun ia sudah dapat memilih ketika ia tidak menyukai makanan yang diberikan oleh orang tuanya. Namun, apa yang ia pilih belumlah dapat ia pertanggung jawabkan dengan benar. Yang ia lihat adalah apa yang ia rasakan dan tidak melihat apa gunanya. Jika ia merasa bahwa sayuran itu tidak enak maka ia akan memilih untuk tidak makan. Padahal sayuran itu penting untuk pertumbuhan dan kesehatan dirinya.
Tanggung jawab atau kedewasaan di dalam memilih merupakan suatu hal yang tidak begitu saja diperoleh. Seseorang yang sudah dewasa dalam artian umur, belum tentu memiliki kedewasaan atau tanggung jawab untuk melakukan suatu pilihan. Umur bukanlah suatu tolak ukur dalam menilai suatu kedewasaan atau tanggung jawab seseorang. Yang dapat menjadi tolak ukur adalah proses ketika seseorang mengambil suatu pilihan atau keputusan.
Pilihan dan keputusan akan selalu ada di dalam kehidupan kita. Baru-baru ini teman-teman yang sudah menyelesaikan ujian akhir memiliki kesempatan untuk memilih ke mana ia akan melangkah, kuliah, menganggur atau bekerja. Pilihan ini tentu tidak lah mudah, karena apa yang akan dipilih merupakan suatu pilihan yang akan ia jalani di dalam hidupnya. Ada perasaan bingung, takut dan khawatir di dalam memilih. Bahkan tidak jaran g ada juga tekanan dari orang tua, saudara, atau pun oran g lain yang membuat seseorang tidak berani berproses di dalam mencapai kedewasaan saat memilih.
Pilihan dapat saja keliru. Dan sering kali refren yang selalu terulang adalah penyesalan. Sehingga ada ungkapan bahwa penyesalan selalu datang belakangan. Tetapi mengapa penyesalan yang datang belakangan, bukan suatu sikap menerima dan sikap berfikir positif untuk tetap berjuang di dalam keadaan yang sulit dari sebuah pilihan.
Tidak jarang , yang ditanyakan pada sang kuasa adalah mengapa hal yang tidak ia harapkan yang ia terima ketika memilih sesuatu. Mengapa sang pencipta memberikan cobaan yang berat pada pilihan yang telah diambil.
Pertanyaan mengapa tidak selamanya terungkap dalam sebuah jawaban. Dan terkadang yang ditemukan adalah kebuntuan dan putus asa. Tetapi tak seharusnya pula kita bertahan pada pertanyaan mengapa. Yang kita dapat tanyakan juga adalah apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita. Sebagai orang yang mengamini bahwa Tuhan selalu memberi rencana yang terbaik, kita percaya bahwa selalu ada rencana yang terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk kita.
Tuhan memang telah menyiapkan rencana yang terbaik, namun pilihan kita tetap akan menentukan di mana rencana itu akan di temukan. Untuk dapat berproses dalam menentukan suatu pilihan kita dapat bersumber pada suara hati kita. Suara hati dapat saja keliru, namun hal itu dapat diproses dengan selalu mengasah suara hati. Ibarat sebuah pisau, suara hati dapat saja tumpul, tetapi apabila diasah secara teratur maka akan dapat menjadi tajam. Untuk dapat mengasah suara hati, yang perlu kita perhatikan adalah ketenangan kita saat menghadapi dua pilihan. Apabila masih ada keraguan dan rasa bimbang sebaiknya pilihan tidak lah dilakukan. Biarkan kita menjadi tenang dan dapat merasakan pilihan mana yang membuat kita merasa bahagia.
Di dalam ketengan itu, suara hati akan mengampil peran utama. Apa pilihan yang kita pilih membuat kita merasakan suatu kebahagiaan dan siap menghadapi resiko yang akan dihadapi, maka suara hati itulah yang kita ikuti. Dengan terus megasah suara hati seperti itu, maka ketajaman suara hati kita akan semakin dapat diandalkan di dalam mengambil suatu keputusan. Dan keputusan yang terbaik adalah keputusan yang memiliki tujuan yang jelas, cara yang tepat dan nantinya akan dapat dilihat hasilnya yang berguna di dalam kehidupan.
Pilihan akan selalu ada. Kebebasan untuk memilih pun akan selalu menyertai. Namun tanggung jawab dan kedewasan untuk memilih tetap lah sebuah proses yang dapat diperjuangkan untuk menentukan pilihan yang memberikan kebahagian dan tujuan yang jelas. Sebab kita adalah apa yang kita pilih.
Seorang anak kecil berumur 4 tahun ia sudah dapat memilih ketika ia tidak menyukai makanan yang diberikan oleh orang tuanya. Namun, apa yang ia pilih belumlah dapat ia pertanggung jawabkan dengan benar. Yang ia lihat adalah apa yang ia rasakan dan tidak melihat apa gunanya. Jika ia merasa bahwa sayuran itu tidak enak maka ia akan memilih untuk tidak makan. Padahal sayuran itu penting untuk pertumbuhan dan kesehatan dirinya.
Tanggung jawab atau kedewasaan di dalam memilih merupakan suatu hal yang tidak begitu saja diperoleh. Seseorang yang sudah dewasa dalam artian umur, belum tentu memiliki kedewasaan atau tanggung jawab untuk melakukan suatu pilihan. Umur bukanlah suatu tolak ukur dalam menilai suatu kedewasaan atau tanggung jawab seseorang. Yang dapat menjadi tolak ukur adalah proses ketika seseorang mengambil suatu pilihan atau keputusan.
Pilihan dan keputusan akan selalu ada di dalam kehidupan kita. Baru-baru ini teman-teman yang sudah menyelesaikan ujian akhir memiliki kesempatan untuk memilih ke mana ia akan melangkah, kuliah, menganggur atau bekerja. Pilihan ini tentu tidak lah mudah, karena apa yang akan dipilih merupakan suatu pilihan yang akan ia jalani di dalam hidupnya. Ada perasaan bingung, takut dan khawatir di dalam memilih. Bahkan tidak jaran g ada juga tekanan dari orang tua, saudara, atau pun oran g lain yang membuat seseorang tidak berani berproses di dalam mencapai kedewasaan saat memilih.
Pilihan dapat saja keliru. Dan sering kali refren yang selalu terulang adalah penyesalan. Sehingga ada ungkapan bahwa penyesalan selalu datang belakangan. Tetapi mengapa penyesalan yang datang belakangan, bukan suatu sikap menerima dan sikap berfikir positif untuk tetap berjuang di dalam keadaan yang sulit dari sebuah pilihan.
Tidak jarang , yang ditanyakan pada sang kuasa adalah mengapa hal yang tidak ia harapkan yang ia terima ketika memilih sesuatu. Mengapa sang pencipta memberikan cobaan yang berat pada pilihan yang telah diambil.
Pertanyaan mengapa tidak selamanya terungkap dalam sebuah jawaban. Dan terkadang yang ditemukan adalah kebuntuan dan putus asa. Tetapi tak seharusnya pula kita bertahan pada pertanyaan mengapa. Yang kita dapat tanyakan juga adalah apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita. Sebagai orang yang mengamini bahwa Tuhan selalu memberi rencana yang terbaik, kita percaya bahwa selalu ada rencana yang terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk kita.
Tuhan memang telah menyiapkan rencana yang terbaik, namun pilihan kita tetap akan menentukan di mana rencana itu akan di temukan. Untuk dapat berproses dalam menentukan suatu pilihan kita dapat bersumber pada suara hati kita. Suara hati dapat saja keliru, namun hal itu dapat diproses dengan selalu mengasah suara hati. Ibarat sebuah pisau, suara hati dapat saja tumpul, tetapi apabila diasah secara teratur maka akan dapat menjadi tajam. Untuk dapat mengasah suara hati, yang perlu kita perhatikan adalah ketenangan kita saat menghadapi dua pilihan. Apabila masih ada keraguan dan rasa bimbang sebaiknya pilihan tidak lah dilakukan. Biarkan kita menjadi tenang dan dapat merasakan pilihan mana yang membuat kita merasa bahagia.
Di dalam ketengan itu, suara hati akan mengampil peran utama. Apa pilihan yang kita pilih membuat kita merasakan suatu kebahagiaan dan siap menghadapi resiko yang akan dihadapi, maka suara hati itulah yang kita ikuti. Dengan terus megasah suara hati seperti itu, maka ketajaman suara hati kita akan semakin dapat diandalkan di dalam mengambil suatu keputusan. Dan keputusan yang terbaik adalah keputusan yang memiliki tujuan yang jelas, cara yang tepat dan nantinya akan dapat dilihat hasilnya yang berguna di dalam kehidupan.
Pilihan akan selalu ada. Kebebasan untuk memilih pun akan selalu menyertai. Namun tanggung jawab dan kedewasan untuk memilih tetap lah sebuah proses yang dapat diperjuangkan untuk menentukan pilihan yang memberikan kebahagian dan tujuan yang jelas. Sebab kita adalah apa yang kita pilih.
Kamis, 07 Januari 2010
Balada Sepak Bola
Dunia sepak bola Indonesia kembali menelan pil pahit setelah kalah 2-1 dari Oman, malam ini(6/1). Kekecewaan terhadap kekalahan Indonesia ini pun diperlihatkan oleh salah seorang suporter indonesia yang turun ke lapangan hijau di menit pertambahan waktu. Ia mengiring bola ke arah gawang Oman dan mencoba memasukannya. Untung hal ini segera disikapi oleh pihak kepolisian yang menyergap dan membawanya ke luar lapangan hijau.
Hingga menit perpanjangan waktu berakhir, Indonesia tidak mampu mengimbangi permainan pemain Oman yang cukup tenang dan akurat dalam membawa serta melepaskan tendangan ke arah gawang Indonesia. Bahkan beberapa kali Markus, penjaga mulut gawang Indonesia terlihat kesulitan ketika penyerang Oman melepaskan tendangan dan sundulan ke arah gawang. Lemahnya pengawalan dari pemain belakang Indonesia membuat peyerang Oman pun mudah menembus pertahan Indonesia. Bahkan jebakan offset yang dicoba oleh pemain belakang Indonesia, sering kali berbuah kesalahan yang membuat peyerang Oman masuk dan melepaskan serangan.
Peluit yang mengakhiri pertandingan telah dibunyikan. Kesedihan dan kekecewaan atas permainan Indonesia bukanlah sikap yang tepat untuk para pemain dan juga para pendukungnya. Ini tandanya, Indonesia masih perlu berlatih 4 kali lebih keras lagi agar kegagalan tak lagi berbuah kegagalan di kemudian hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
