Selasa, 27 Agustus 2013

Aktualisasi Diri ?


Perhatian saya belakangan ini tertuju pada aksi-aksi demo yang sering menghiasi layar kaca dan pemberitaan media masa. Mulai dari aksi demo hak buruh, hasil pemilihan pemimpin daerah hingga yang terhangat adalah demo kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Sayangnya, semua niat baik itu tidak jarang berujung pada aksi perusakan.  

Sedikit menyimpang dari permasalah di atas, saya ingin menilik sedikit pada teori Abraham Maslow tentang kebutuhan manusia. Menurutnya, kebutuhan manusia itu seperti piramida. Di tingkat pertama, kebutuhan manusia harus terpenuhi dulu sebelum kebutuhan lain di tingkat atasnya.

Marslow membagi tingkat kebutuhan itu menjadi lima tingkatan. Pertama, kebutuhan fisologis. Dalam tingkatan pertama ini, manusia harus mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan hingga kebutuhan biologis seperti bernafas, dan lain-lain. Dalam bahasa ekonomi dapat disetarakan dengan kebutuhan primer atau pokok.

Setelah kebutuhan tingkat pertama itu terpenuhi baru lah tingkat berikutnya. Marslow menyebutkan tingkat keamanan. Rasanya, hal ini tidak lah perlu saya jelaskan lebih lanjut. Setiap orang tentu membutuhkan rasa aman dalam kehidupannya. Tingkat berikutnya adalah sosial. Hal ini ditunjukan dengan keinginan manusia untuk dicintai, memiliki keluarga, dan membangun jejaring atau bersosialisasi. Di era internet, kebutuhan ini, dipenuhi melalui beragam media sosial.

Setelah kebutuhan sosial, Tingkat selanjutnya adalah kebutuhan untuk dihargai, baik yang diberikan oleh orang lain, maupun penghargaan yang timbul dari kepuasan dari dalam diri sendiri. Ditingkat ini lah, menurut saya, setiap manusia memiliki sensitifitas yang cukup tinggi. Manusia dapat mudah tersinggung, jika tidak dihargai atau diakui. Atau manusia dapat kelewat kepedean jika terlalu banyak dipuji dan lupa diri.

Nah, ini yang terakhir. Aktualisasi diri. Dalam tahapan ini, manusia dihadapkan pada kesempatan untuk menunjukan diri seasli-aslinya. Tidak menutup-nutupi diri. Jujur. Manusia berhak berapreasi dan “menunjukan” siapa dirinya dan apa yang yang ia pikirkan agar menjadi pribadi yang utuh.

Jika kembali pada paragraf pertama, buat saya menarik apa yang diutarakan oleh Maslow dengan fenomena aktualisasi diri para pendemo. Nampaknya, mereka  mencoba menjadikan permasalahan sebagai bentuk pengungkapan kesejatian diri dan pikirannya. Entahlah, tapi bisa jadi benar jika menilik tahapan maslow sebelumnya. Di mana para pendemo rela bergelut dengan kebenaran yang mereka junjung dan membuat seakan kebutuhan primer, rasa aman, sosial,  dan penghargaan telah terpenuhi. Mereka (lagi-lagi seakan) melompat pada kebutuhan aktualisasi diri.

Dari sana, saya mencoba mengelitik pikiran saya dengan membandingkan para pekerja yang juga bergelut dengan rutinitas selagi para pendemo itu mencoba untuk mengaktualisasikan diri. Apa bentuk dari aktualisasi mereka?Bekerja itu sendiri kah yang menjadi bentuk aktualisasinya? Atau lebih pada mengejar kebutuhan primer?

Sering saya mendengar bahwa bekerja perlu dilandasi oleh passion. Tidak sedikit pula kenalan-kenalan saya yang telah menekuni bidang tertentu dan bisa dibilang cukup berhasil menjalankanya, mengatakan bahwa mereka menjalankan pekerjaan itu dengan passion.

Rasanya, saya cukup sepakat dengan hal itu. Mereka  yang memiliki passion, membuat setiap pekerjaan rutin yang dijalani menjadi bentuk aktulisasi diri mereka. Hmm, pantas, para pendemo itu menjadikan demo sebagai hal rutin. Mungkin, itu bentuk aktualisasi diri dan didasarkan dengan passion. :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar