Jumat, 14 Mei 2010
Cerita di Lampu Merah
Melintas jalan Gatot subroto siang ini (10/5), membuat aku merasa terenyuh. Sebuah pemandangan yang seakan menjadi satu pandangan mata biasa di tengah Bandung yang semakin padat.Kala itu, aku baru saja mengajar komputer di SD Slamet Riyadi. Kebetulan lampu berwarna merah dan "memaksa" untuk berhenti. Mobil dan motor mulai berjalan pelan dan berhenti. Pedangan asongan mulai menjajakan barang dagangannya yang ia bawa.Dari arah mata memandang, ada seorang anak dengan suara sumbangnya mendendangkan salah satu lagu pop di tanah air. Bermodalkan sebuah alat musik yang dibuat dari kayu dengan beberapa tutup botol minuman yang terpaku, ia mencoba mengais rejeki.Tepat di depannya ada pengendara motor yang juga sedang menanti lampu lalu lintas. Tampaknya suara parau dan paras lelah yang tercermin dari wajahnya tidak mampu menyentuh hati.Dengan lunglay ia melangkahkan kakinya tanpa ada hasil sama sekali. Kelelahan, Kekecewaan dan pengharapan menjadi satu dalam langkah kecilnya.Masih ingat bagaimana cerianya anak-anak saat paskahan di Aloy? Mereka berlari, bermain dan tertawa. Sepertinya, gelak tawa lepas dan keceriaan seperti anak-anak itu jauh dari bayangan pengamen-pengamen kecil.Ketika lampu menjadi hijau. Kendaraan pun melaju, semua itu seakan terbang bersama debu jalanan.
Jumat, 05 Maret 2010
U Are What U Choose
Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih. Sejauh ia telah memiliki tanggung jawab atas pilihannya itu, ia berhak untuk menggunakan pilihannya. Mengapa dikatakan pilihan yang bertanggung jawab? Memilih adalah suatu proses bukan yang semata-mata hanya melihat pada hasil akhir.
Seorang anak kecil berumur 4 tahun ia sudah dapat memilih ketika ia tidak menyukai makanan yang diberikan oleh orang tuanya. Namun, apa yang ia pilih belumlah dapat ia pertanggung jawabkan dengan benar. Yang ia lihat adalah apa yang ia rasakan dan tidak melihat apa gunanya. Jika ia merasa bahwa sayuran itu tidak enak maka ia akan memilih untuk tidak makan. Padahal sayuran itu penting untuk pertumbuhan dan kesehatan dirinya.
Tanggung jawab atau kedewasaan di dalam memilih merupakan suatu hal yang tidak begitu saja diperoleh. Seseorang yang sudah dewasa dalam artian umur, belum tentu memiliki kedewasaan atau tanggung jawab untuk melakukan suatu pilihan. Umur bukanlah suatu tolak ukur dalam menilai suatu kedewasaan atau tanggung jawab seseorang. Yang dapat menjadi tolak ukur adalah proses ketika seseorang mengambil suatu pilihan atau keputusan.
Pilihan dan keputusan akan selalu ada di dalam kehidupan kita. Baru-baru ini teman-teman yang sudah menyelesaikan ujian akhir memiliki kesempatan untuk memilih ke mana ia akan melangkah, kuliah, menganggur atau bekerja. Pilihan ini tentu tidak lah mudah, karena apa yang akan dipilih merupakan suatu pilihan yang akan ia jalani di dalam hidupnya. Ada perasaan bingung, takut dan khawatir di dalam memilih. Bahkan tidak jaran g ada juga tekanan dari orang tua, saudara, atau pun oran g lain yang membuat seseorang tidak berani berproses di dalam mencapai kedewasaan saat memilih.
Pilihan dapat saja keliru. Dan sering kali refren yang selalu terulang adalah penyesalan. Sehingga ada ungkapan bahwa penyesalan selalu datang belakangan. Tetapi mengapa penyesalan yang datang belakangan, bukan suatu sikap menerima dan sikap berfikir positif untuk tetap berjuang di dalam keadaan yang sulit dari sebuah pilihan.
Tidak jarang , yang ditanyakan pada sang kuasa adalah mengapa hal yang tidak ia harapkan yang ia terima ketika memilih sesuatu. Mengapa sang pencipta memberikan cobaan yang berat pada pilihan yang telah diambil.
Pertanyaan mengapa tidak selamanya terungkap dalam sebuah jawaban. Dan terkadang yang ditemukan adalah kebuntuan dan putus asa. Tetapi tak seharusnya pula kita bertahan pada pertanyaan mengapa. Yang kita dapat tanyakan juga adalah apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita. Sebagai orang yang mengamini bahwa Tuhan selalu memberi rencana yang terbaik, kita percaya bahwa selalu ada rencana yang terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk kita.
Tuhan memang telah menyiapkan rencana yang terbaik, namun pilihan kita tetap akan menentukan di mana rencana itu akan di temukan. Untuk dapat berproses dalam menentukan suatu pilihan kita dapat bersumber pada suara hati kita. Suara hati dapat saja keliru, namun hal itu dapat diproses dengan selalu mengasah suara hati. Ibarat sebuah pisau, suara hati dapat saja tumpul, tetapi apabila diasah secara teratur maka akan dapat menjadi tajam. Untuk dapat mengasah suara hati, yang perlu kita perhatikan adalah ketenangan kita saat menghadapi dua pilihan. Apabila masih ada keraguan dan rasa bimbang sebaiknya pilihan tidak lah dilakukan. Biarkan kita menjadi tenang dan dapat merasakan pilihan mana yang membuat kita merasa bahagia.
Di dalam ketengan itu, suara hati akan mengampil peran utama. Apa pilihan yang kita pilih membuat kita merasakan suatu kebahagiaan dan siap menghadapi resiko yang akan dihadapi, maka suara hati itulah yang kita ikuti. Dengan terus megasah suara hati seperti itu, maka ketajaman suara hati kita akan semakin dapat diandalkan di dalam mengambil suatu keputusan. Dan keputusan yang terbaik adalah keputusan yang memiliki tujuan yang jelas, cara yang tepat dan nantinya akan dapat dilihat hasilnya yang berguna di dalam kehidupan.
Pilihan akan selalu ada. Kebebasan untuk memilih pun akan selalu menyertai. Namun tanggung jawab dan kedewasan untuk memilih tetap lah sebuah proses yang dapat diperjuangkan untuk menentukan pilihan yang memberikan kebahagian dan tujuan yang jelas. Sebab kita adalah apa yang kita pilih.
Seorang anak kecil berumur 4 tahun ia sudah dapat memilih ketika ia tidak menyukai makanan yang diberikan oleh orang tuanya. Namun, apa yang ia pilih belumlah dapat ia pertanggung jawabkan dengan benar. Yang ia lihat adalah apa yang ia rasakan dan tidak melihat apa gunanya. Jika ia merasa bahwa sayuran itu tidak enak maka ia akan memilih untuk tidak makan. Padahal sayuran itu penting untuk pertumbuhan dan kesehatan dirinya.
Tanggung jawab atau kedewasaan di dalam memilih merupakan suatu hal yang tidak begitu saja diperoleh. Seseorang yang sudah dewasa dalam artian umur, belum tentu memiliki kedewasaan atau tanggung jawab untuk melakukan suatu pilihan. Umur bukanlah suatu tolak ukur dalam menilai suatu kedewasaan atau tanggung jawab seseorang. Yang dapat menjadi tolak ukur adalah proses ketika seseorang mengambil suatu pilihan atau keputusan.
Pilihan dan keputusan akan selalu ada di dalam kehidupan kita. Baru-baru ini teman-teman yang sudah menyelesaikan ujian akhir memiliki kesempatan untuk memilih ke mana ia akan melangkah, kuliah, menganggur atau bekerja. Pilihan ini tentu tidak lah mudah, karena apa yang akan dipilih merupakan suatu pilihan yang akan ia jalani di dalam hidupnya. Ada perasaan bingung, takut dan khawatir di dalam memilih. Bahkan tidak jaran g ada juga tekanan dari orang tua, saudara, atau pun oran g lain yang membuat seseorang tidak berani berproses di dalam mencapai kedewasaan saat memilih.
Pilihan dapat saja keliru. Dan sering kali refren yang selalu terulang adalah penyesalan. Sehingga ada ungkapan bahwa penyesalan selalu datang belakangan. Tetapi mengapa penyesalan yang datang belakangan, bukan suatu sikap menerima dan sikap berfikir positif untuk tetap berjuang di dalam keadaan yang sulit dari sebuah pilihan.
Tidak jarang , yang ditanyakan pada sang kuasa adalah mengapa hal yang tidak ia harapkan yang ia terima ketika memilih sesuatu. Mengapa sang pencipta memberikan cobaan yang berat pada pilihan yang telah diambil.
Pertanyaan mengapa tidak selamanya terungkap dalam sebuah jawaban. Dan terkadang yang ditemukan adalah kebuntuan dan putus asa. Tetapi tak seharusnya pula kita bertahan pada pertanyaan mengapa. Yang kita dapat tanyakan juga adalah apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita. Sebagai orang yang mengamini bahwa Tuhan selalu memberi rencana yang terbaik, kita percaya bahwa selalu ada rencana yang terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk kita.
Tuhan memang telah menyiapkan rencana yang terbaik, namun pilihan kita tetap akan menentukan di mana rencana itu akan di temukan. Untuk dapat berproses dalam menentukan suatu pilihan kita dapat bersumber pada suara hati kita. Suara hati dapat saja keliru, namun hal itu dapat diproses dengan selalu mengasah suara hati. Ibarat sebuah pisau, suara hati dapat saja tumpul, tetapi apabila diasah secara teratur maka akan dapat menjadi tajam. Untuk dapat mengasah suara hati, yang perlu kita perhatikan adalah ketenangan kita saat menghadapi dua pilihan. Apabila masih ada keraguan dan rasa bimbang sebaiknya pilihan tidak lah dilakukan. Biarkan kita menjadi tenang dan dapat merasakan pilihan mana yang membuat kita merasa bahagia.
Di dalam ketengan itu, suara hati akan mengampil peran utama. Apa pilihan yang kita pilih membuat kita merasakan suatu kebahagiaan dan siap menghadapi resiko yang akan dihadapi, maka suara hati itulah yang kita ikuti. Dengan terus megasah suara hati seperti itu, maka ketajaman suara hati kita akan semakin dapat diandalkan di dalam mengambil suatu keputusan. Dan keputusan yang terbaik adalah keputusan yang memiliki tujuan yang jelas, cara yang tepat dan nantinya akan dapat dilihat hasilnya yang berguna di dalam kehidupan.
Pilihan akan selalu ada. Kebebasan untuk memilih pun akan selalu menyertai. Namun tanggung jawab dan kedewasan untuk memilih tetap lah sebuah proses yang dapat diperjuangkan untuk menentukan pilihan yang memberikan kebahagian dan tujuan yang jelas. Sebab kita adalah apa yang kita pilih.
Kamis, 07 Januari 2010
Balada Sepak Bola
Dunia sepak bola Indonesia kembali menelan pil pahit setelah kalah 2-1 dari Oman, malam ini(6/1). Kekecewaan terhadap kekalahan Indonesia ini pun diperlihatkan oleh salah seorang suporter indonesia yang turun ke lapangan hijau di menit pertambahan waktu. Ia mengiring bola ke arah gawang Oman dan mencoba memasukannya. Untung hal ini segera disikapi oleh pihak kepolisian yang menyergap dan membawanya ke luar lapangan hijau.
Hingga menit perpanjangan waktu berakhir, Indonesia tidak mampu mengimbangi permainan pemain Oman yang cukup tenang dan akurat dalam membawa serta melepaskan tendangan ke arah gawang Indonesia. Bahkan beberapa kali Markus, penjaga mulut gawang Indonesia terlihat kesulitan ketika penyerang Oman melepaskan tendangan dan sundulan ke arah gawang. Lemahnya pengawalan dari pemain belakang Indonesia membuat peyerang Oman pun mudah menembus pertahan Indonesia. Bahkan jebakan offset yang dicoba oleh pemain belakang Indonesia, sering kali berbuah kesalahan yang membuat peyerang Oman masuk dan melepaskan serangan.
Peluit yang mengakhiri pertandingan telah dibunyikan. Kesedihan dan kekecewaan atas permainan Indonesia bukanlah sikap yang tepat untuk para pemain dan juga para pendukungnya. Ini tandanya, Indonesia masih perlu berlatih 4 kali lebih keras lagi agar kegagalan tak lagi berbuah kegagalan di kemudian hari.
Langganan:
Komentar (Atom)
